Lompat ke konten

UNDA University

Meruntuhkan Batasan Daerah, CaraMahasiswa Sistem Informasi UNDAMembumikan Google AI hingga Naik Top500 Tier Gemini Rising Star

SAMPIT – Ada orang yang mengenal kampusnya lewat ruang kelas. Nasywa Salsabiila
Romadhona mengenal kampusnya lewat sebuah pawai. Tanggal 17 Agustus 2024, beberapa
hari sebelum ospek resmi dimulai, mahasiswa Program Studi Sistem Informasi Universitas
Darwan Ali (UNDA) ini berjalan di tengah barisan dengan bendera kecil di tangan, sementara
di dalam dadanya berkecamuk barisan kekecewaan yang jauh lebih riuh dari sorak sorai di
sekitarnya.

Tujuh tahun merantau dan mondok di Bojonegoro membuatnya yakin pada satu arah,
melanjutkan kuliah di Universitas Brawijaya, Malang. Namun orang tua memutuskan lain. Ia
diminta gap year setahun dan pulang ke Kalimantan, hingga akhirnya mendaftar di Program
Studi Sistem Informasi UNDA, kampus yang justru berdiri di kota kelahirannya sendiri,
Sampit.


“Awalnya tentu sangat berat. Ada air mata kecewa dan rasa kehilangan. Rasanya seperti
langkah yang sudah siap berlari jauh, tiba tiba harus berhenti dan memutar arah,”
kenangnya.


Di tengah pawai itu, sebuah banner kecil di pinggir jalan menghentikan langkahnya.
Tulisannya sederhana, ajakan agar tidak menunda kuliah demi memperjuangkan sesuatu yang
bukan takdirnya. Kalimat itu menjadi pengingat bahwa jalan yang tampak berbelok bukan
berarti jalan yang salah. Keyakinan itu kembali ditegaskan pada hari pertama PKKMB, ketika
Rektor menyampaikan bahwa kesuksesan bukan soal di mana seseorang kuliah, melainkan apa
yang ia lakukan dengan kesempatan yang ada di tangannya.


Sejak hari itu, Nasywa bertekad untuk tidak “kalah dua kali” pada keadaan. Ia aktif di UKM
Kelompok Studi Pasar Modal dan UKM Agama Islam, lalu dipercaya menjadi Wakil Ketua
BEM Universitas Darwan Ali. Semangat yang sama membawanya merintis usaha bimbingan
belajar Mumtaz Bimbel Sampit sejak semester awal, memimpin kepanitiaan UNDA CUP 2026
dengan waktu persiapan hanya 45 hari, hingga melaju sebagai finalis Pemilihan Mahasiswa
Berprestasi (Pilmapres) 2025 tingkat Wilayah XI.

Di tengah deretan kesibukan itu, Gemini perlahan menjelma rekan diam yang setia menemani
proses berpikirnya. Pemakaiannya dimulai sejak semester 1 lewat versi gratis, lalu meningkat
sejak akhir Agustus 2025, bertepatan dengan awal semester 3, ketika ia mendapat akses Google
AI Pro gratis untuk mahasiswa.


Ketertarikannya pada program Google Student Ambassador bermula dari sebuah video
TikTok alumni angkatan 2025, satu bulan penuh sebelum pendaftaran resmi dibuka. Ia tidak
menunggu. Ia mencari tahu detail programnya, menandai tanggal pembukaan, lalu memasang
pengingat di Google Calendar agar tidak ada satu pun celah waktu yang terlewat.


“Saya langsung mendaftar di hari pertama pembukaan, dan juga menyebarkan informasi
pendaftaran itu ke semua grup WhatsApp kampus yang saya ikuti, bahkan ke grup mahasiswa
dan webinar lain yang pernah saya ikuti sebelumnya,”
ujar Nasywa.


Tujuh Acara, Tiga Program Studi, Satu Keyakinan
Setelah resmi menyandang status Google Student Ambassador, Nasywa tidak berhenti pada
gelar. Ia merancang tujuh acara untuk membawa ekosistem Google AI keluar dari layar
ponselnya sendiri, masuk ke ruang kelas teman temannya.
Tiga acara pertama menjawab kebutuhan yang berbeda di tiap angkatan. Pada Gemini Study
Buddy: Level Up Your Freshman Year, ia memperkenalkan Gemini sebagai asisten belajar
bagi mahasiswa Semester 2 Sistem Informasi yang sedang bergulat dengan logika
pemrograman, lewat teknik Explaining Like I’m Five dan fitur Quiz Generator untuk simulasi
ujian mandiri. Pada LinkedIn Level Up: Jadi Rebutan HR Bareng Gemini, ia mengajak
mahasiswa Semester 4 Sistem Informasi mengubah dokumentasi proyek kuliah menjadi narasi
portofolio profesional lewat teknik advanced prompting. Pada GEMS: Gemini Empowered
Management Success, ia mendampingi mahasiswa Semester 8 Manajemen membangun
personal branding lewat Custom Gemini Gems yang diatur menjadi Career Success Coach,
lengkap dengan sesi konsultasi pribadi selama 3,5 jam.

Empat acara berikutnya disusun sebagai rangkaian menuju tier Gemini Achiever, masing
masing dengan target minimal 20 peserta dan jangkauan program studi yang lebih luas. Pada
INOVASI, ia mengenalkan NotebookLM kepada mahasiswa Semester 2 Sistem Informasi
sebagai asisten riset yang berpijak langsung pada sumber dokumen sendiri, sehingga aman dari
risiko halusinasi data saat mengolah jurnal dan dokumentasi sistem. Pada AGENDA, ia
melatih mahasiswa Semester 2 Manajemen memadukan Gemini Core Chat dengan kerangka
kerja manajemen waktu seperti Eisenhower Matrix dan Pomodoro Technique untuk menyusun
study plan mingguan.

Untuk mahasiswa Agribisnis, ia menempuh dua jalan berbeda. Dalam AMARTA, mahasiswa
Semester 2 Agribisnis dilatih memakai Gemini untuk merangkum literatur pertanian sekaligus
mengotomatisasi jadwal praktikum lewat Google Calendar Extensions. Dalam VISUAL,
mahasiswa Semester 4 Agribisnis diperkenalkan pada Google Vids untuk merangkai video
promosi komoditas tani lokal secara mandiri, dari penyusunan storyboard hingga pengisian
voiceover otomatis oleh AI.

“Saya ingin teman teman yang tadinya hanya memakai AI untuk biar tugas cepat selesai,
merasakan bahwa Gemini bisa jadi mitra berpikir sungguhan, sesuai kebutuhan masing
masing bidang ilmu mereka,”
ujar Nasywa.


Ketujuh acara ini menjangkau lebih dari 100 mahasiswa dari tiga program studi berbeda,
Sistem Informasi, Manajemen, dan Agribisnis, dengan setiap peserta turut mendapat akses
gratis ke kelas bersertifikasi dari Dicoding Indonesia sebagai nilai tambah.

Konsistensi menghadirkan Google AI tools yang relevan untuk setiap bidang ilmu inilah yang
membawa Nasywa naik tier menjadi Gemini Rising Star, sekaligus mengukuhkan posisinya
sebagai satu dari 500 Google Student Ambassador pertama di Indonesia yang meraih
pencapaian tersebut.


Pencapaian ini menggemakan kembali pesan yang pernah ia dengar langsung dari pakar
teknologi dan pendidikan nasional, Prof. Richardus Eko Indrajit, saat memandu sesi podcast
UNDA pada acara Workshop Leadership dan Borneo Smart Network di kampus tersebut, awal
September 2025.


“Di mana pun kampusnya, semua akan sama saja. Zaman sekarang internet yang kita akses
dari mana pun akan menghasilkan output yang sama. Yang membedakan hanyalah mindset,
kemauan, dan kesanggupan kita untuk menjadi bisa,”
ungkap Prof. Ekoji kala itu.


Dari mahasiswa yang sempat menangis karena gagal kuliah di kampus impian, hingga
membumikan Google AI lewat tujuh acara di tiga program studi, perjalanan Nasywa
membuktikan satu hal sederhana. Kampus daerah tidak pernah kalah dari kampus mana pun,
yang membedakan hanyalah siapa yang berani bergerak lebih dulu. Dampak teknologi tidak
harus dimulai dari sesuatu yang besar, cukup satu sesi yang relevan, tepat sasaran, dan
konsisten dijalankan, untuk perlahan mengubah cara belajar banyak mahasiswa, di kampus
mana pun mereka berpijak.